Selasa, 21 Februari 2012

PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU


Pada abad 15 - 16 di barat terjadi aufkarung yang berdampak dalam hal tidak terikat lagi dengan adat dan ikatan gereja, tumbuh percaya diri dan sikap optimisme dalam ilmu. Akhirnya lahirlah filsafat pengetahuan yang rasional, phenomenologi, positivisme dan sebagainya.
Melalui pengaruh politik, ilmu bersifat praktis, maka di abad 18 lahirlah pertanyaan mengenai apa hakikat ilmu; sampai di mana batas-batas antara ilmu yang satu dengan yang lain; sampai di mana etik dan moral ikut; apa kita sekarang telah mencapai kesenangan/kebahagiaan.
Berikut lahir paham heuristic yaitu gejala yang muncul awal abad 19 dalam mana faktor non ilmiah mempengaruhi perkembangan ilmu dan bahkan dapat melahirkan cabang-cabang ilmu baru misalnya ilmu perdamaian, dan sebagainya, sehingga setiap zaman selalu timbul cabang baru dari ilmu dan ini tidak ada yang benar tetapi itu merupakan realitas. Ilmu sebagai produk teori bersifat sementara Kebenaran ilmiah hanya dapat dipertimbangkan sepanjang ia diletakkan pada metode/asumsi yang dipakai. Kalau suatu cabang ilmu membicarakan atau menyentuh harkat manusia, maka akan timbul filsafatnya, seperti ilmu hukum timbul filsafat hukum, dan sebagainya­.
Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang membahas apakah ilmu itu, tidak perlu didefinisikan tetapi dilihat dari sejarahnya (pendekatan historis). Apa sebabnya orang berbeda-beda memberikan definisi tentang filsafat dan ilmu.­
Filsafat sudah berjalan sekitar 28 abad, dimulai zaman Yunani Kuno (8 SM - 6 M), Abad Pertengahan (6M -14/15 M) abad modern ( 15 M-19 M dan abad kontemporer (20 M).
Filsafat Barat yang lahir di Yunani (Asia Kecil) dekat dengan Athena yang diwariskan kepada bangsa Romawi dan dengan filosof Arab, filsafat ini di bawa ke Eropah dan hingga sekarang ini tersebar di seluruh dunia. Filsafat Barat menjadi sumber ilmu­.
Sampai abad 20 (1920) ada perdebatan apakah Yunani yang melahirkan peletak dasar filsafat dan ilmu pengetahuan. Menurut Drogenes Laerties diperkuat oleh Edward Zeller (1920) menyatakan bahwa Yunani merupakan tempat kelahiran filsafat. Abad 8 SM terdapat suatu masyarakat yang ekonominya begitu maju di Athena, ada keamanan dan ketenteraman. Dan saat itu ada sekelompok kecil yang mempertanyakan alam semesta. Pertanyaan ini aktual hingga sekarang ini, seperti  adanya keteraturan, keindahan, adanya mati dsb.
Dasar filsafat pada saat kelahirannya adalah mitos. Mulai abad ke 5 SM tidak lagi puas dengan jawaban mitos itu, maka mulai lari kepada logos=akal, apakah archi atau asal mula dari segala sesuatu itu?
Untuk menjawab hal itu lahirlah filosof I Thales (624 - 548 SM) yang menjawab bahwa archi itu adalah air.

Dalam hal ini yang dihormati adalah keberanian dia menentang, disini timbul kepercayaan kepada akal, yang penting adalah kehidupan dan apa yang menyebabkan hidup ialah azas yang basah yaitu air­
Kemudian lahirlah berturut-turut: Anaximander (610 - 540 SM), yang menyatakan archi =apeiron = azas yang tidak mengalami perubahan
Murid Tha1es yaitu Anaximines (590 - 518 SM), menyatakan bahwa archi = udara yakni azas bernafas­.
Pythagoras (580 - 500 SM) menyatakan bahwa archi = bilangan. Para ahli seni mereka merasakan keseimbangan yang disimbolkan dengan angka Alam ini indah diibaratkan dengan seni­.
Herkleitos (535 - 2.75 SM) menyatakan bahwa archi = api, sedangkan Demokritos (460 - 370 SM) menyatakan dengan nama atom.
Pendeknya segala yang ada dan yang mungkin ada dipertanyakan pada zaman Yunani kuno itu. Dan puncak filsafat Yunani kuno berada pada tiga tokoh besar yakni:
a.    Socrates (469 - 399 SM) diteruskan oleh muridnya
b.    Plato (427 -347 SM) dan diteruskan oleh muridnya
c.    Arestoteles (384 -322 SM)­

Menurut Aristoteles segala sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan oleh akal itulah filsafat. Dan karena banyaknya karangan Arestoteles tersebut, maka ada pandangan bahwa fisafat hari ini adalah pengulangan filsafatnya. Objeknya adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Karyanya ada yang bersifat umum yang melahirkan metafisika, dan ada yang bersifat khusus dan ini ada yang bersifat mutlak melahirikan teodise (Theodicae), dan yang tidak mutlak menyangkut alam semesta melahirkan kosmologi dan menyangkut manusia melahirkan antropologi. Yang menyangkut manusia ini lahir pula cabang-cabangnya yakni logika, etika dan estetika. Melalui logika mencapai kebenaran atau truth, sedangkan melalui etika menimbulkan kehendak untuk mencapai kesusilaan atau good dan melalui estetika menimbulkan perasaan keindahan atau beautiful. Di zamannya pula lahir istilah philosophia. philos = cinta/teman; sophia =wisdom yang artinya pintar dan arif, satrio pinandito. Orangnya disebut phylosophos.
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. (dan masih konon juga) Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan.
Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kebenaran yang riil tidak ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis, artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dalam keadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak ingin dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai.
Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian.
Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusa rumah tangga; (3) sosial dan politik. Filusuf adalah orang yang mengetahui semua cabang-cabang ilmu pengetahuan tadi. (Filsafat Ilmu, Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah  Filsafat Islam  di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad)
Setelah Arestoteles, filsafat Yunani mulai menghadapi kemunduran.
Sampai abad ke 6 M. filsafat identik dengan ilmu pengetahuan termasuk segala macam ilmu pengetahuan kita sekarang ini. Dan pada abad ke 6 ini lahir kaum Peter =Pateristik yang memadukan filsafat Yunani dengan Kristiani dan inilah yang disebut skolastik.  Akhirnya filsafat berubah menjadi theologi.
Di abad pertengahan dikenal Agustinus dan Thomas Aquino. Thomas Aquino mengembangkan pandangan Arestoteles untuk mendukung ajaran Kristiani. Thomas dkk itu muncul berkat adanya filosof Arab AI-Kindi, Al-Farabi (900 - 950), Ibnu Sina (980- 1037), Ibnu Rusyd (1126 -1198) dan Al-Gazali (1059 -1111). Sementara di Eropah waktu itu masih barbar, sedangkan di timur (Cina) sudah maju.
Abad tengah adalah kejayaan tahta suci (Roma), kemudian terjadi kemunduran agama dari segi politik dan ekonomi, karena tanah dikuasai oleh gereja yang dijustifikasi oleh agama dan rakyat hanya sebagai pekerja, maka timbul keinginan untuk melepaskan diri.
Zaman modern didahului oleh zaman renaissance (renascimento) atau kelahiran kembali. Abad 15 -17, manusia bebas dari manusia yang dibelenggu oleh dogma agama yang dipakai untuk membenarkan sistem ekonomi. Gerakan renaissance didukung oleh cita-cita lahirnya manusia bebas yaitu manusia ala Yunani. Oleh karena itu karya-karya Arestoteles yang aseli diambil kembali untuk dinilai kembali.
Manusia bebas dari segala ototritas - kebiasaan, gereja, sistem dan tradisi -, kecuali otoritas diri sendiri. Semboyannya liberasi, emansipasi dan otonomi diri. Kemudian gerakan kebebasan ini disusul oleh skularisasi yang melahirkan skularisme.
Adanya renaissance tersebut bernilai positif sebab melahirkan kepercayaan diri dan optimisme. Agama dan gereja dipertanyakan dan menjadi bulan-bulanan
Renaisance melahirkan:
1.    Copernicus, 1473 -1543
2.    Bruno , 1548 – 1600
3.    Kepler, 1571- 1630 
4.    Galelei , 1564 1642
- Inti ajaran Copernicus adalah revolusi pengetahuan yang menyatakan bukan bumi sebagai pusat alam semesta tetapi matahari, dan ini menentang dogma gereja yang menyatakan bumi sebagai pusat.
-  Bruno seorang pendeta yang mendukung Copernicus dan dihukum bunuh.
- Pada abad ke 18 timbul zaman Aufklarung atau enlighten=pencerahan, mendorong agar manusia berpikir sendiri "Sapere Aude", berpikir sendiri yang mementingkan rasio.
Pada abad ke 18 dikenal revolusi industri, sebelumnya pada abad ke 17, filsafat meninggalkan agama dan berjalan sendiri-sendiri. Agama berdasarkan kepercayaan sedangkan filsafat berdasarkan akal dan pengetahuan. Mungkin saja antara agama dan filsafat punya obyek yang sama misalnya moral, tuhan, dsb. Ini merupakan gejala periode II di samping gejala sekuler
Gejala periode III yaitu melepaskan pengetahuan dari filsafat, orang tidak lagi berpikir dari kitab suci atau deduksi, dengan adanya renaissance orang berpikir induksi.
Anak-anak renaissance melihat alam dari bagian, tidak menyeluruh seperti pandangan filsafat, demikian pula manusia di lihat aspek-aspeknya.  Sejak renaissance, filsafat seolah-olah menjadi kesepian dan seolah-olah hanya bagian dari metafisika. Manusia menjadi detotalisasi, manusia dipotong-potong tidak dilihat secara keseluruhan dan inilah kenyataan sekarang. Memang spesialisasi juga dibutuhkan.  Ilmu cabang mengembangkan metode sendiri untuk mengetahui hal-hal yang paling detail dalam wawasannya sendiri. Pada saat ilmu cabang memasuki spekulasi/teori yang fundamental, maka harus kembali ke filsafat. Filsafat menjadi mahkota bagi ilmu-ilmu cabang.
          Di zaman Yunani – Arestoteles – pengetahuan dimanfaatkan bukan untuk mempermudah kehidupan manusia, tetapi semata mata untuk pengenalan diri manusia, karena kehidupan dianggap suatu yang telah ada (takdir) dari alam kodrat dan manusia diyakini tidak dapat merubahnya. Akan tetapi pada peride lanjutan, sekali pengetahuan telah lahir, maka untuk mengembangkannya timbullah eksprimen. Eksprimen memang diutuhkan baik untuk memperoleh pengetahuan maupun untuk menguji pengetahuan, dan eksprimen tidak saja berhubungan dengan alam yang sempit tetapi dengan alam yang semakin meluas dan untuk itu tak bisa kcuali melalui pengetahuan.
         Pada saat terjadi pergeseran dari ilmu pengetahuan yang bersifat rasional-empiris menuju ilmu pengetahuan  yang bersifat rasional-eksprimental telah mengakibatkan ditemukannya kegunaan pengetahuan.
          Ilmu alam sebagai ilmu pertama yang berubah menjdi pelayanan kepada teknik, mengakibatkan pengetahuan semakin menampakkan nilai praksisnya. Memang ada pembagian pengetahuan teoritis dan praktis tetapi kesemuanya hampir telah menjadi praksis.
           Van Melsen meskipun mengthui adanya tendensi pengetahuan ke arah kesatuan, tetapi kenyatannya berlainan, bakan spesialisasi pengetahuan tak dapat dimengerti. Ini bukan diakibatkan oleh objek materianya, tetapi akibat dari perbedaan objek formanya, tetapi akibat dari perbedaan objek forma yakni perbedaan metodologi.
           Keyakinan akan kesatuan pengetahuan dan tumbuhnya spesialisasi justru harus timbul supaya tendensi ilmu pengetahuan yang menjuniversalisir serta  menyatu dapat diwujudkan dan supaya banyak gejala yang beraneka ragam itu dapat disentetisir. Kesatuan yang didasarkan atas prinsip yang sungguh-sungguh universal hanya dapat diperoleh melalui spesialisasi (p.18).
         Harapan ini hanya tinggal harapan hingga akhir abad ini karena berbagai ilmu dengan nilai praksisnya telah semakin memperbesar spesialisasi. Melalui eksprimen timbul lagi yang dahulunya belum terungkap spesialisasi baru.
         Demikian pula tak ada ilmu  yang menguasai realitas konkrit secara menyeluruh. Tetapi apakah ilmu itu secara bersama-sama tidak dapat menguasai seluruh realitas?. Bahkan jika seandainya hal itu mungkin, masih ada dua kesulitan:
1.            Tidak semua ilmu berkembang sama jauhnya, karena dalam perkembangannya antara ilmu yang satu terikat dengan ilmu yang lain (teoritis-praktis; sosial-ilmu alam; biologi-kimia).
2.            Karena ilmu berbeda dalam objek formanya, sebab tidak mudah untuk menyatukan cara kerja dan pendekatan antara ilmu-ilmu itu (van Melsen:55).
          Ilmu pengetahuan memang sukar kembali kepada induknya filsafat, karena pradigmanya telah begitu berbeda, tentunya filsafat yang bertujuan untuk mengerti tentang manusia dalam mana pengetahan selalu diberi nafas oleh tujuan fundamental ini. Tetapi dewasa ini pengetahuan didasarkan atas pradigma bagaimana manusia menjadi berkuasa. Penguasaaan terhadap alam banyak membawa manusia lupa mengenali dirinya sehingga nilai-nilai pragmatis dan operasional menjadi semakin jelas. Bahkan menurut van Peursen hakikat manusia telah tertindas oleh nilai praktis ilmu dan manusia sendiri dipandang tidak lebih dari hal-hal material dan operasional (van Peursen, 1985: 112-117).   
Kelahiran filsafat ilmu pada abad ke 18 memberikan petunjuk bahwa ilmu-­ilmu cabang telah menyentuh nilai-nilai dasar/fundamental bagi umat manusia  menyentuh nilai-nilai moral bagi kelangsungan umat manusia, filsafat ingin kembali memadukan.
Adapun yang dikerjakan oleh filsafat modern: l) Apa sarana untuk mencapai kebenaran, dan 2) apakah kebenaran itu. Filsatat modern lebih identik dan menfokuskan dengan epistemologi yakni pemikiran mengenai kenyataan dan kebenaran.
Abad modern diisi oleh diskusi antara lain:
1.   Rasionalisme
2.   Empirisme
Untuk mendamaikan adalah rasionalisme kritis (kritisime), juga didamaikan oleh phenomenologi. (Lihat Az Zuhruf: 33).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar